Rabu, 27 Februari 2013

Teten Masduki : Banyak Aktivis Mahasiswa Berubah Ketika Masuk Politik

Banyak orang menghawatirkan seorang aktivis terjun ke dunia politik. Kekhawatiran itu karena banyak aktivis yang terjun ke politik kemudian tak terdengar lagi suaranya.

Pengalaman itu dirasakan, aktivis anti korupsi, Teten Masduki. Banyak orang kaget ketika dirinya mencalonkan diri sebagai wakil gubernur Jawa Barat.

“Ketika saya masuk ke politik elektoral sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat. Memang banyak yang kaget dan tidak percaya. Mereka khawatir saya akan rusak,” kata Teten dalam diskusi buku Teten Masduki Panglima Domba Melawan Korupsi,” di Gramedia Matraman, Jakarta, Selasa, (12/01/2013).

Menurut Teten, hal itu dikarenakan banyak aktivis mahasiswa yang telah terjun ke dunia politik justru tidak kedengaran lagi suaranya. “Bukannya dia membuat perubahan namun aktivisnya yang berubah,” jelas Teten.

Teten mengaku, ia masuk ke politik karena ingin membuat kultur politik baru. Tapi banyak orang ragu-ragu mengenai tujuannya itu. Ia masih dikawatirkan masyarakat. “Saya dibebani realitas seperti itu,” jelas Teten.

Menurut Teten, untuk melakukan perubahan, dibutuhkan kepekaan. Namun tidak banyak orang yang seperti itu. Teten sendiri terjun berpolitik karena ingin melanjutkan pengabdiannya kepada publik melalui jalur birokrat. ”Saya lihat ada peluang untuk itu. Melakukan perubahan dari daerah itu adalah yang paling mungkin,” kata Teten.

Teten Masduki dikenal sebagai aktivis anti korupsi. Pada tahun 1998 ia mendirikan Indonesian Corruption Watch (ICW). Kemudian ia memimpin Transperency International Indonesia (TII). Dia juga sosok dibalik pemogokan buruh pertama dan terbesar di masa orde baru. Saat ini ia mencalonkan sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat.

Bukannya Buruk, Pendidikan RI Hanya Perlu Dibenahi


Buruknya kondisi mutu pendidikan Indonesia, ditambah lagi penerapan kurikulum baru yang terkesan buru-buru membuat cemas banyak pihak. Bagi banyak pendidik, kondisi ini akan mendorong Indonesia seperti berada di zaman batu pada era globalisasi. 

Menurut Anggota Komisi X DPR RI, Rohmani, situasi tersebut tidaklah sepenuhnya salah. Artinya, memang ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam pendidikan Indonesia, salah satunya adalah kurikulum. 

Rohmani memaparkan, meski diperlukan, perubahan kurikulum haruslah diawali dengan riset menyeluruh terlebih dahulu. "Kita perlu mencari tahu, apa kekurangan-kekurangan kurikulum sebelumya, lalu dievaluasi dan segera dibenahi," ujar Rohmani ketika dihubungi Okezone, Rabu (27/2/2013). 

Hal kedua yang perlu diperbaiki, imbuh Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini adalah pelaksanaan ujian nasional (UN). Menurutnya, UN seharusnya tidak dijadikan standar kelulusan, karena para guru dan siswa nanti hanya akan fokus dengan bagaimana cara mengerjakan soal agar lulus dalam UN. 

"Dan hal itu akan membuat siswa kurang kreatif. UN seharusnya hanya dijadikan pemetaan," imbuhnya. 

Dalam sebuah laporan mendalam yang dikeluarkan Aljazeera baru-baru ini, Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terburuk di dunia. Al Jazeera memotret buramnya pendidikan Indonesia lewat kacamata sukarelawan guru dan siswa di daerah terdepan, terluar, dan terpencil (3-T), serta dibandingkan dengan penilaian siswa di perkotaan. Liputan ini juga menyoroti buruknya mutu guru dan infrastruktur sekolah sebagai penunjang merosotnya kualitas pendidikan Indonesia.

Lulusan Keuangan Harus Sesuai Kompetensi di Masyarakat


Pertumbuhan bisnis di Indonesia cukup tinggi. Oleh karena itu, lulusan bidang keuangan dengan kualitas terbaik menjadi target utama yang dicari oleh pihak perusahaan. 

Menyadari pentingnya melahirkan lulusan bidang keuangan yang berkompeten, berbagai sekolah bisnis pun menyiapkan para mahasiswa mereka sesuai kebutuhan dunia kerja. Hal ini pula yang dilakukan Bina Nusantara (Binus) Business School yang menggelar seminar bertajuk "Build Your Career on Financial Field, Are You Ready?”

Menghadirkan Senior Financial Advisor Akbars Financial Checkup (AFC) Aidil Akbar Madjid, kegiatan yang berlangsung di Kampus Business School itu mendapat antusiasme dari para peserta. Bahkan, sejumlah mahasiswa maupun profesional di luar kampus Binus turut hadir dalam seminar tersebut.

Dia menyebut, para lulusan keuangan hendaknya memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat/pasar. Selain itu, kompetensi yang tidak hanya berbasis pada teori tapi juga berbasis ilmu praktikal.

"Kita bagus berpatokan pada teori tapi juga berpatokan praktisnya seperti apa. Contoh dalam investasi di bursa banyak sekali terjadi anomali. Dalam teori harusnya nilai saham naik tapi ternyata turun atau sebaliknya. Dengan praktik, saat selesai pendidikan, mahasiswa bisa langsung terjun ke masyarakat," ujar Aidil kepada Okezone selepas seminar tersebut, di Kampus Binus, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa 26 Februari malam.

Aidil mengimbuh, banyak bentuk latihan yang dapat dilakukan mahasiswa di jurusan keuangan untuk siap terjun di masyarakat kelak. Dia mencontohkan, untuk bidang investasi, mahasiswa harus punya rekening investasi. Demikian pula ketika mereka tentang reksa dana, mereka harus punya rekening reksa dana.

Saat mempelajari asuransi, lanjutnya, mahasiswa harus punya polis asuransi, sudah mulai mencicil. Sementara ketika belajar emas, mereka pun harus membeli emas batangan.

"Tidak sampai di situ. Mereka dari jurusan investasi yang mau trading, harus melakukan transaksi jual beli untuk merasakan feelnya. Rugi enggak masalah. Itu bagian dari investasi. Nantinya mereka akan belajar mengapa mereka bisa rugi dan bagaimana cara supaya tidak merugi lagi," tuturnya.

Cerita Mengelola Uang Saku



Urusan kantong memang jadi masalah bagi semua kalangan, termasuk mahasiswa, apalagi yang statusnya mahasiswa rantau. Terkadang, uang menjadi kendala ketika menjalani perkuliahan.

Sebagai mahasiswa rantau, kita pasti mendapat kiriman uang rutin dari orangtua di kampung halaman. Biasanya, kiriman uang datang sebulan sekali. Ada juga yang menerima uang saku mingguan. Sementara itu, mahasiswa yang tidak merantau biasa mendapatkan uang jajan setiap hari. 

Salah satu mahasiswa yang mendapat kiriman uang setiap bulan adalah Ziah. Dalam sebulan, dia harus mampu mengatur uang Rp1,5 juta yang dikirimkan orangtuanya untuk kebutuhan kuliah dan hidup sehari-hari. Jumlah tersebut, diakui mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) ini masih kurang. 

"Saya termasuk boros. Kalau sudah kekurangan, ya, paling enggak jajan selama beberapa hari," jawab Ziah lewat Blackberry Messenger kepada Okezone, Rabu (27/2/2013). 

Meski suka merasa kekurangan, Ziah mengaku selalu membagi uang bulanannya ke dalam beberapa pos pengeluaran. Misalnya untuk ongkos, makan, belanja, dan tabungan. "Dengan begitu, jika tiba-tiba uang saya kurang, saya bisa memakai tabungan untuk keperluan mendadak," imbuhnya. 

Lain halnya dengan Tika. Mahasiswi Universitas Indonesia (UI) ini mendapat uang jajan lebih sedikit dari Ziah, hanya Rp 1 juta per bulan. Namun, Tika mengaku tidak selalu kekurangan dengan nominal itu. "Pernah sih kekurangan. Jadi ya saya benar-benar menghemat uang jajan dan memangkas keperluan yang sifatnya enggak terlalu penting," tutur Tika.

Setiap mahasiswa tentunya mempunyai kebutuhan dan gaya hidup yang berbeda-beda. Karena itu, jika uang jajan yang didapat tidak besar, maka belum tentu mereka merasa kekurangan. Menariknya, ide kreatif terkadang muncul ketika mahasiswa kekurangan uang jajan.

Setiap bulan Venny mendapat uang jajan Rp1,5 juta per bulan. Mahasiswi jurusan Broadcast ini mengaku tidak pernah kekurangan. Meski demikian, cewek yang kuliah di Universitas Indonesia (UI) ini punya cara sendiri jika mengalami kekurangan uang. 

"Selain memakai tabungan, saya jualan binder secara online," kata Venny.

Koneksi Internet Lelet, ITS Gandeng Google

Tahun baru, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pun berupaya meningkatkan pelayanan terhadap para mahasiswa. Salah satunya dalam bidang pelayanan internet mahasiswanya, Badan Teknologi dan Sistem Informasi (BTSI) ITS melakukan kerja sama dengan perusahaan search engine dunia, yakni Google. 

Sebagai langkah awal, BTSI ITS meresmikan migrasi email resmi ITS dari webmail ke gmail. Kepala Pusat layanan Teknologi Informasi ITS Arief Rahman mengungkap, kerjasama tersebut dilakukan karena melihat kebutuhan mahasiswa ITS. Sebagai civitas academica kampus teknik, aktivitas mahasiswa ITS tak pernah lepas dari jeratan Teknologi Informasi (TI). Namun, kebutuhan tersebut selama ini belum bisa terpenuhi dengan maksimal karena minimnya infrastruktur.

''Banyak mahasiswa yang komplain kepada kami tentang koneksi lelet, kurang stabil hingga jaringan internet putus. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, BTSI berani menjalin kerjasama dengan perusahaan search engine Google," kata Arief, seperti disitat dari ITS Online, Rabu (27/2/2013).

Untuk kerjasama perdana, BTSI memindahkan email resmi ITS yang sebelumnya webmail menjadi gmail. Arief menjelaskan, pemindahan ini dilakukan untuk meningkatkan layanan terhadap pengguna email resmi ITS. Pasalnya, dengan menggunakan gmail, kapasitas penyimpanan email akan bertambah hingga 25 gigabyte.

Selain itu, tingkat keamanan gmail tinggi dan fitur yang ditawarkan lebih variatif. Meski telah dipindah menjadi gmail, domain yang terdaftar tetap milik ITS sehingga proses pengawasan dan pengelolaan email sepenuhnya dilakukan oleh BTSI ITS. ''Sebelum kami resmikan hari ini, kami sudah melakukan uji coba di tiga jurusan dan hasilnya lancar, tidak ada masalah,'' urainya.

Oleh sebab itu, supaya dapat segera dinikmati, Arief menyarankan kepada seluruh mahasiswa ITS untuk secepatnya memindah akun webmail mereka ke gmail. Caranya, dengan log in ke webmail ITS terlebih dahulu. Kemudian klik link migrasi dan log in ke gmail.its.ac.id. ''Tidak sampai 10 detik akun kita akan pindah,'' imbuh Arief.

Selain email, dalam waktu dekat kerjasama akan berlanjut dalam pembuatan kalender akademik. Nantinya, kalender akademik ITS akan terintegrasi dengan Google kalender.

"Sehingga secara otomatis Google akan mengingatkan jadwal akademik bagi mahasiswa yang menggunakan produk Google. Misalnya jadwal ujian semester, minggu perkuliahan, hingga pembayaran SPP,'' paparnya.

Bahkan, email orangtua mahasiswa nantinya juga akan diintegrasikan dengan Google. Sehingga, proses pemberitahuan hasil studi mahasiswa selama satu semester tidak lagi lewat surat melainkan lewat email yang secara otomatis dikirim lewat Google.

Arief berharap, kerjasama ini dapat semakin menunjang sistem pendidikan yang ada di ITS. Selain itu, terbentuknya cloud community juga menjadi salah satu tujuan utama yang tidak kalah penting. ''Kami sekarang sudah mulai menerapkannya,'' tutup Arief.